Hal-Hal Yang Terjadi Akibat Pernikahan Dini

akibat pernikahan dini
akibat pernikahan dini

Jakarta – Kasus pernikahan dini banyak terjadi di Indonesia dan juga negara-negara lain. Pernikahan dini banyak terjadi di daerah-daerah dengan tingkat pendidikan yang rendah, terutama daerah pedesaan yang masih mengikuti adat dan kebiasaan yang ada. Pernikahan dini dialami oleh anak-anak berusia antara 10-17 tahun karena banyak orang tua yang menikahkan anak mereka tanpa memikirkan akibat dari pernikahan dini bagi anaknya.

Adapun faktor-faktor yang menyebakan terjadinya pernikahan dini antara lain :

Faktor Pendidikan

Faktor pendidikan orang tua yang rendah mengakibatkan kurangnya pengetahuan tentang dampak buruk yang dapat terjadi kepada anak mereka setelah menikah, sehingga para orang tua ini tidak mempermasalahkan jika anak mereka menikah diusia yang belum cukup.

Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi menengah ke bawah yang menjadikan para orang tua memiliki pemikiran bahwa setelah anak mereka menikah maka beban ekonomi yang mereka tanggung bisa sedikit berkurang, karena kehidupan anak mereka ada yang menanggung. Sedangkan faktanya tidak selalu demikian.

Faktor Adat / Tradisi

Adanya stereotype bahwa jika pada rentang usia sekian sampai sekian jika anak belum menikah maka dianggap perawan tua dsb. Dengan adanya stereotype di lingkungan yang demikian membuat para orang tua mendorong anak mereka untuk segera menikah.

Faktor Media Massa

Mudahnya akses internet dan sosial media saat ini membuat anak-anak mudah mengakses konten-konten yang seharusnya tidak diperkenankan untuk ditonton, seperti pornografi dsb. Hal ini juga berkaitan dengan faktor rendahnya pendidikan orang tua, sehingga tidak dapat memantau aktivitas anak-anak mereka di internet.

Pernikahan dini tidak diperbolehkan karena mengacu pada peraturan Undang-Undang No 1 tahun 1974 yang diubah denga Undang-Undang Nomor 16 tahun 2019 yaitu “batas usia minimal umur perkawinan bagi wanita dipersamakan dengan batas minimal umur perkawinan bagi pria, yaitu 19 (sembilan belas) tahun”.

Dan rekomendasi yang diberikan oleh BKKBN “Sesuai dengan Undang-Undag Perlindungan Anak, usia kurang dari 18 tahun masih tergolong anak-anak. Untuk itu BKKBN memberikan batasan usia pernikahan 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun untuk pria”. Tidak diperbolehkannya pernikahan dini tentu ada yang melatarbelakanginya. Yaitu karena dampak atau akibat yang akan terjadi jika melakukan pernikahan dini.

Adapun hal-hal yang terjadi akibat pernikahan dini dari segi kesehatan mental maupun dari segi kesehatan fisik, dan dari segi pendidikan akan di bahas selengkapnya di bawah ini :

1. Segi Kesehatan Mental Akibat Pernikahan Dini

Photo by Vera Arsic

Karena usia yang belum cukup dan mental anak belum siap maka anak masih belum mengerti mengenai hak dan tanggung jawab baik sebagai suami maupun sebagai istri. Akibatnya ketika terjadi masalah dalam rumah tangga anak akan kesusahan dalam mencari jalan keluar dari masalahnya, karena masih cenderung egois dan mementingkan diri sendiri. Hal lain yang sering terjadi ketika sudah demikian adalah terjadinya pertengkaran dalam rumah tangga hingga mengakibatkan KDRT. Hal ini berakibat pada tekanan mental yang dialami oleh perempuan maupun pada anaknya.

Jika masalah yang dialami tidak bisa terselesaikan dengan baik maka jalan keluar yang dipilih yaitu perceraian. Dan akibat dari perceraian adalah anak cenderung menjadi korban kekersan dan penelatantaran oleh orang tuanya. 

2. Segi Kesehatan Fisik

Photo by Leah Kelley

Akibat pernikahan dini dari segi kesehatan fisik antara lain : Pada usia 10-17 tahun organ reproduksi wanita masih dalam masa perkembangan, sehingga belum siap jika terjadi proses pembuahan sel telur. Karena organ reproduksi belum siap maka dapat menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit yang berbahaya seperti HIV. Hal ini disebabkan oleh rendahnya pengetahuan tentang kesehatan alat reproduksi sehingga melakukan hubungan seks yang tidak aman.Penularan HIV disebabkan oleh pasangan yang telah terinfeksi terlebih dahulu.

Selain resiko tertular virus HIV akibat lain yang dapat terjadi akibat pernikahan dini yaitu tingginya resiko pendarahan, keguguran, cacat bawaan, dan kelahiran prematur. Resiko kelahiran bayi prematur mencapai 14% dari ibu yang melahirkan di bawah usia 17 tahun.

Sedangkan resiko kematian saat melahirkan yang dialami anak perempuan berusia 10-14 tahun lima kali lipat lebih besar dibandingkan usia 20-24 tahun. Dan dua kali lipat lebih besar pada usia 15-19 tahun. Selain resiko yang dialami oleh ibu bayi, resiko juga dapat dialami oleh bayi yang dilahirkan dari ibu yang melakukan pernikahan usia dini antara lain yaitu : anak mengalami keterlambatan tumbuh kembang, kesulitan dalam belajar, gangguan perilaku, dan cenderung menjadi orang tua pula di usia muda. (Eddy Fadlyana dan Shinta Larasaty : 2009).

3. Segi Pendidikan

akibat pernikahan dini
Photo by Helmi Lutvyandi

Akibat dari pernikahan dini dari segi pendidikan yaitu rendahnya tingkat pendidikan yang diperoleh anak. Sedangkan ketika melakukan pernikahan di usia yang telah dianjurkan oleh peraturan undang-undang dan BKKBN maka masih ada jaminan bahwa anak mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Sehingga solusinya adalah menunda pernikahan. Pendidikan sangat berpengaruh pada cara seorang ibu mengasuh dan membesarkan anak-anak mereka.

Pernikahan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dijalani, oleh karena itu perlu persiapan secara mental, emosional, dan financial. Mari lindungi diri anda dan keluarga dengan cara menikah pada usia idealnya.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like